Menjadi golongan putih (Golput)di haramkan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI).Umat islam diwajibkan memilih dalam pemilu 2009 yang akan datang.kontan fatwa MUI ini memicu pro kontra.
Sebagian besar masyarakat mendukung fatwa MUI tersebut.mereka beralasan,meski saat ini belum ada calon anggota legislatif yang ideal menurut islam tapi setidaknya masih ada caleg-caleg yang baik.andai kata tidak ada yang baik sekalipun,tetap harus memilih.pilihlah yang tingkat keburukannya paling rendah.
tapi sebagian calon lagi ada yang berpendapat,keputusan tersebut ‘tidak cerdas’.bahkan mereka menilai fatwa ‘golput haram’menyesatkan serta melanggar hak warga negara dan hak asasi pemilih.”harusnya politisilah yang menunjukkan kalau mereka layak untuk di pilih dan di percaya oleh masyarakat.bukan lewat fatwa,tp lewat karya yang kongkrit.bahkan fajrol rachman,salah seorang calon presiden independen,menilai MUI tidak paham persoalan golput dan politik.”politik tidak bisa di kait kaitkan dengan urusan agama.memilih dan tidak memilih adalah hak.memilih untuk tidak memilih dan memilih untuk memilih adalah sama sama hak,”ujar fajrol.
memang jika kita lihat,maraknya golput sudah sangat mengkhawatirkan dan ini bukanlah suatu hal yang kebetulan.saat ini masyarakat sudah mulai ngerti politik.masyarakat mulai sadar,bahwa demokrasi tidak menjanjikan apa-apa,tidak kemakmuran,kesejahteraan,apalagi keadilan.
demokrasi hanya menjanjikan kemiskinan dan penderitaan.demokrasi yang katanya menempatkan kedaulatan rakyat diatas segala galanya justru sering ‘membohongi’ rakyat.suara dan jeritan hati rakyat sering di kalahkan oleh suara para wakilnya di legislatif.di sisi lain,penguasa yang di pilih,langsung oleh rakyat juga sering lebih berpihak kepada para pemilik modal ketimbang kepada rakyat.singakatnya,rakyat sudah menyadari bahwa keberadaan penguasa dan wakilnya di perlemen seolah antara ada dan tiada.karena itu,dalam pandangan mereka,memilih atau tidak memilih sama saja,tidak ada pengaruhnya terhadap nasib mereka yang semakin tragis.itulah alasan sebenarnya mengapa maraknya golput selama ini.
disamping beberapa alasan di atas,maraknya golput setidaknya menunjukkan dua hal.pertama:maraknya golput merupakan ‘warning’(peringatan)bagi perpol peserta pemilu.beberapa survei yang di lakukan lembaga survei nasional menunjukkan bahwa parpol saat ini mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat.masyarakat sudah mulai memahami bahwa keberadaan parpol lebih di jadikan sebagai ‘kuda tunggangan’ yang super komersial,siap ‘direntalkan’kepada siapa saja yang ingin berkuasa-tentu yang memiliki modal (baca: uang) melimpah dan bukan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
kedua:alasan orang untuk golput memang beragam,ada yang karena alasan ideologis,misalnya karena calon atau parpol peserta pemilu tidak ada yang secara jelas dan serius memperjuangkan syariah islam.
ada juga yang hanya karena alasan teknis,misalnya tidak terdaftar atau saat pencoblosan sedang pergi bekerja sehingga tidak memberikan suaranya.namun alasan teknis sekalipun sudah cukup menunjukkan bahwa masyarakat menganggap pemilu bukanlah hal yang penting bagi mereka.andaikata hal itu di nilai penting,apalagi bisa memberikan harapan untuk perbaikan,tentu masyarakat akan berduyun-duyun menuju TPS.
namun demikian jika fenomena golput di biarkan,mamang cukup berbahaya.kalau masayakat tidak mau memilih maka bisa bisa kita tidak punya pemimpin dan kalau golputnya tingi pemimpin yang terpilih di anggap tidak legitimet.terlepas dari apa yang penulis jabarkan di atas tadi sekarang pertanyaanya,jika umat islam memilih golput,siapa yang menang?padahal kita tahu,penduduk indonesia mayoritas penduduknya beragama islam dan bahkan berdasarkan data sensus terakhi 70 persen penduduk indonesia adalah muslim.
Dan apabila umat islam memilih golput,maka secara otomatis keterwakilan umat islam di perlemen akan semakin sedikit dan bila ini terjadi maka berbagai kebijakan yang di buat oleh perlemen tentu banyak yang tidak berpihak kepada umat islam.ini tentunya akan sangat merugikan umat islam itu sendiri.
Jadi wajar jika MUI mewajibkan umat islam memilih,sebab jika kaum muslimin memilih golput,maka di khawatirkan kelompok sekuler yang menang dalam pemilu,karena partai partai islam tidak mendapat suara yang cukup.penulis hanya menganjurkan,jika saat ini kita belum melihat ada caleg yang bersih,setidaknya pilihlah yang terbaik dari yang terburuk,itu jauh lebih baik daripada golput.
*sumber:Buletin madani
2 responses to “Islam Golput,Siapa Yang Menang?”
dir88gun
March 28th, 2009 at 02:38
assalamu alaikum wr. wb.
Saudaraku tersayang…
Permisi, saya mau numpang posting (^_^)
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/
semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)
wassalamu alaikum wr. wb.
fathur rohman
March 31st, 2009 at 13:49
wa’alaikum salaam….terima kasih telah sudi mampir di blog-blog-an ini….wach ternyata emang kita mesti banyak belajar darimanapun itu sumbernya…dan semoga saudara betah dan tidak bosan untuk berkunjung,sekalian mohon saran atau kritik buat membangun neh blog yang masih sangat amburadul…
wassalaam